Sabtu, 07 Desember 2013

Tidak semua bisa dinilai dengan angka




Selesai ujian sekolah , Ketika kalian pulang kerumah pertanyaan apa yang sering ditanyakan oleh orang tua kalian?? “ bagaimana ulangan hari ini??, berapa nilai yang sudah kamu dapat nak??”, belakangan ini orang tua lebih senang ketika anaknya menjadi juara kelas, lebih suka anaknya ketiaka mereka menjadi anak yang penurut dan berdiam dirumah tanpa melakukan apa – apa kecuali belajar, les dan lain sebagainya yang berhubungan dengan akademik sekolah.

Jarang sekali kita berjumpa dengan orang tua yang menanyakan “ kebaikan apa hari ini yang telah kamu lakukan??” hal yang seperti ini kian langka kita temukan, entah kenapa, apa mungkin sudah tidak bermanfaat lagi ketika anak mereka menjadi pahlawan bagi teman – teman mereka, atau mungkin orang tua merasa tindakan Prososial anak – anak mereka tidak akan berpengaruh pada nilai akademis dan masadepan anak – anak mereka untuk sukses??

Jadi jangan heran kalau sekarang semuanya harus diukur dengan angka, sehingga ketika mereka dewasapun mereka akan mencari angka yang setinggi – tingginya, kalau bisa segala carapun menjadi halal untuk mendapatkan itu, lantas akan seperti apa jadinya generasi muda 20 tahun yang akan datang jika tidak diimbangi dengan sikap Prososial atau kecerdasan Sosial dan emosional?? 

Sepertinya, kesuksesan tidak ditentukan oleh prestasi di sekolah. Ketika duduk di bangku sekolah, kita sebagai siswa dijejali dengan sejumlah teori, yang diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Pendidikan formal memang pada kenyataannya lebih menekankan pada proses pemintaran secara teori. Namun, ketika masuk dalam aplikasi kehidupan nyata, keadaan bisa berubah, dan tidak selamanya teori sejalan dengan kondisi lapangan. Selalu ada faktor “x” yang menentukan kesuksesan seseorang diluar kemampuan akademisnya.

Dari sinilah muncul istilah emosional quetion (EQ) atau kecerdasan emosional, yang tak kalah penting dari IQ atau kecerdasan intelektual. Para psikolog pendidikan dan ilmu sosial bahkan memberi rung besar pada sistem pendidikan terhadap kecerdasan emosional, kecerdasan melihat dan menangani situasi, maupun kecerdasan sosial atau kepintaran bergaul.  Sukses dalam kehidupan itu memang tidak semata mata ditentukan oleh cemerlangnya nilai akademis, tapi bagaimana seseorang itu dapat  menggabungkan semua ilmu dan keahlian sehingga menjadi  pribadi yang mumpuni.

Lalu darimana kita akan mendapatkan nilai – nilai dari Kecerdasan Sosial ( SQ ), Kecerdasan Emosional ( EQ)serta perilaku Prososial untuk kehidupan sehari – hari kita??


1 komentar:

Mario Wiharja mengatakan...

Makanya itu paradigma orang tua hanya melihat output dari anak tersebutt...
tidak melihat inputnya gmnaa....

g' tanya rajin belajar gak.. ato pulang diberi senyuman manis..
enakkan dikasih makan siangg.....

Voice Clarity di Windows 11

Microsoft memperkenalkan fitur baru bernama Voice Clarity dalam perilisan Windows 11 Insider Build 26040. Awalnya, fitur ini eksklusif untuk...