Hanya ada satu kemungkinan diantara tiga ratus ribu miliar kemungkinan yang ada, bahwa manusia yang
akhirnya hadir itu adalah anda. Dengan kata lain, tiga ratus ribu miliar ( sel
sperma ) saudara kandung anda tidak lolos seleksi, Yang lolos hanya satu, yaitu
anda. Begitu sebuah fakta ilmiah yang diungkap oleh Dale Carnege dari sebuah
buku klasik, You and Heridity.
Lahir sebagai individu yang unik, Tak ada satupun manusia lain diseluruh dunia yang menyamai keunikan anda,
termasuk saudara kembar anda, anda hanya satu – satunya yang ada dibumi, sebuah
Mahakarya Spesial yang tiada duanya, tak ada satupun yang lahirnya, pengalaman
hidupnya serta matinya sama persis dengan anda.
Tercipta sebagai makhluk ciptaan
Allah yang harganya tak terhingga, sangat istimewa.
Bolehkah sepasang mata anda
dibeli satu milyar? Bolehkan pendengaran anda ditukar dengan mobil termahal di
dunia? Bolehkan kepala anda dibarter dengan rumah mewah?
Ya, harga anda bukan milyaran,
bukan triliunan, jauh lebih mahal dari mobil termahal, jauh lebih istimewa dari
rumah yang mewah. Harga anda tak ternilai.
Makhluk spesial tentu juga
dihargai dengan tugas yang spesial pula. Makhluk terhormat harus diberi tugas yang
terhormat pula. Makhluk berharga harus diberi tanggungjawab yang amat berharga
pula. Jika makhluk terhormat diberi tugas dan wewenang yang remeh, tentu hal
itu menjadi pelecehan terhadapnya. Makhluk istimewa tapi diberi tugas yang
biasa – biasa saja, tentu bentuk penghinaan. Orang besar harus diberi tugas
yang besar!!.
Begitupun manusia sebagai makhluk
yang harganya tak ternilai, tugas yang diberikan oleh Tuhan juga tak ternilai.
Apa tugasnya? Yakni menjadi Khalifah. Menjadi Wakil Tuhan Dimuka Bumi.
Sebuah tugas dan tanggungjawab
yang sangat terhormat, sebuah tugas yang memang sangat berat. Tapi inilah
konsekwensi menjadi makhluk yang mulia. Tanda kemuliaan tidak hanya terjabar
dam beentuk raga yang sempurna, symbol kehormatan bukan hanya terlihat dari
penciptaan akal yang memang istimewa, tapi juga terlihat dari tanggungjawab
yang disertakan oleh tuhan terhadapnya.
Berani menjadi manusia, harus
berani memegang tanggungjawab yang disertakan tuhan terhadapnya. Berani menjadi manusia harus berani mengemban tugas kehormatan yang diamanatkan oleh
Sang Pencipta kepadanya.
Tapi lihatlah perilaku begitu
banyak manusia. Mereka melecehkan
dirinya dengan tertunduk kepada makhluk yang diciptakan lebih rendah darinya.
Mereka menjual martabat demi meraih pangkat, mereka menukar harga dirinya demi
meraih limpahan harta, mereka mengorbankan kemuliaannya dengan mengisi hidupnya dengan beragam aktivitas
yang tak pantas dilakukan oleh sosok makhluk mulia.
Jangan pernah meremehkan hasil
karya Tuhan dengan pilihan – pilihan hidup kita yang kerdil, jangan pernah
melecehkan mahakarya tuhan Tuhan dengan aktivitas – aktivitas kita yang kecil.
Sebuah kedurhakaan yang tak
tanggung – tanggung jika kita hanya mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang
tak layak dikerjakan oleh sang maha karya, tentu sebuah kedzaliman yang tak
terkira jika kita menjadikan karya yang begitu istimewa ini hanya numpang lewat
dalam sejaran. Lahir, hidup dan mati tanpa meninggalkan warisan berharga,
tanpa menyumbangkan prestasi dan
kontribusi yang memberi manfaat bagi sekitarnya.
Mari beristighfar dan menyesali
segala salah yang selama ini tak kunjung berhenti kita lakukan, “ Ya Allah,
Maaf, Kau alirkan nikmat, kami balas dengan maksiat, sehatnya mata dipakai
berbuat nista, sehat telinga dipakai mendengar yang sia-sia, bugarnya raga
dipakai berbuat hina, lisan yang bisa bicara dipakai ngomong tak bermakna, kaki
yang kuat dipakai jalan ketempat yang sesat, dikasih amanah malah khianat,
dikasi rezeki malah sombong tak henti – henti, diberi kehormatan malah angkuhnya
bukan main. Tolong, ampuni kami Ya Allah, jangan sampai kekufuran kami
menjadikan Mu murka dan mencabut segala nikmat dari kami. Jangan sampai kami
baru sadar setelah seluruh anugerah terenggut dari kami. Mohon maaf YA Allah,
hanya semenit kucoba menutup mata, menutup telinga lemaskan kaki dan bisukan
lisan, betapa tak enaknya, tak terbayangkan jika nikmat mata, telinga, lisan
dan raga engkau renggut.”
“ Bukan Kedzaliman yang tak terkira jika kita menjadikan mahakarya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya”
__ Ahmad Rifa’I Rif’an __
Tidak ada komentar:
Posting Komentar