“Seseorang yang tidak
saya kenal telah menyerang pemikiran
bebas yang saya dan
Djohan anut, dengan bertolak dari pikiran
yang terikat. Pikiran
yang tidak bebas menganalisa pikiran yang
bebas, tentunya tidak
akan pernah ketemu.
Titik tolak sudah
lain!”
Terisnspirasi dari buku yang saya
baca di Catatan Harian Ahmad Wahib seorang aktifis yang bangga akan fikiran –
fikiran bebasnya, begitupun dengan saya yang diasingkan karena menurut mereka
akulah sang pemberontak dan tidak pantas berada didalamnya, otakku ini sudah
dipenuhi dengan pertanyaan – pertanyaan atas pernyataan yang menurut saya tidak
masuk akal dan terlalu kuno, demokratis yang sebenarnya adalah otoriter yang
mereka kemas dengan indah sebagai kado kedigjayaan mereka, aku terasingkan
karena bagi mereka aku terlalu frontal dan tanpa basa –basi, ya tapi inilah aku
yang selalu haus dengan perubahan – perubahan, keluar dari zona nyaman yang
selalu mengekangku, Ayo bangkit, Dunia
ini membutuhkan Suara lantangmu bung…!!!!, sampai mau habis suara ini berteriak, tapi apa boleh
buat, mereka yang hanya menjilat yang tak tau malu, berkata “berikan kami solusi “ solusi
kongkritpun belum bisa mereka pahami, ya kembali lagi mata hati mereka masih
tertutup untuk menerima Pesan alam karena sikpanya mereka yang selalu menjilat,
terlalu takut, terlalu munafik karena takut terasingkan hingga yang lain
menjadi korban kedholiman mereka.
Lalu sekarang
apalagi yang bisa dibanggakan dari pemuda penjilat seperti kalian??, jadi ini
yang akan kalian wariskan untuk generasi kalian??, memang tak aka nada yang
faham, mungkin aku terlalu bodoh untuk menerobos batas kelabu yang selama ini
menyelimuti kalian, atau mungkin kalian terlalu pintar sehingga setiap potongan
kata dan fikiranku kalian lemahkan begitu saja di kerongkongan kalian?? Yah,
inilah yang namanya perbedaan titik tolak, tidak akan bertemu benang merahnya,
selalu kusut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar