Senin, 08 April 2013

Contoh Verbatim


VERBATIM  KONSELING INDIVIDUAL

Nama konseling         : Nuary Ulfa ( nama samaran )
Ttl                               : Surabaya, 6 April 1993
Alamat                        : Jln. Ngegel Dadi 123, Surabaya
Sekolah                       : SMAN 0196 Surabaya
Kelas                           : XII IA 3
Deskriptif masalah     : Nuary Ulfa ini adalah seorang siswa disalah satu SMA, dia  mempunyai masalah keluarga yang berdampak pada masalah Finansial dan sekolahnya, pada suatu hari Nuary Ulfa ingin bercerita sesuatu kepada Bapak Ady ( Konseling ) disekolahnya, dengan harapan mendapatkan solusi.
Akhirnya melailah percakapan yang diinginkan setelah mereka mengadakan janji untuk bertemu saat waktu kosong dikelasnya tersebut.
 
Konseli            : “Assalamu’alaikum pak....”
Konselor          : “Walaikumsalam......”
   “Eh..Nuary,, mari silakan masuk Nak.....” “Ayo silakan duduk”
Konseli         : “iya Pak, terima kasih”. "Maaf Pak, saya agak terlambat datang. Tadi saya sehabis mata  pelajaran olahraga langsung ganti baju dan makan siang terlebih dahulu, soalnya tadi pagi belum sempat sarapan Pak, jadi baru bisa datang"
Konselor       : "iya, bapak mengerti. Tidak apa-apa. Kalau perut tidak diisi terlebih dahulu,  nanti malah tidak bisa berkonsentrasi saat belajar toh?"
Konseli        : "Benar Pak, Terima kasih pengertiannya. Wah, neafas saya masih belum normal ni pak, maklum tadi terburu buru, jadi lari dari kantin kesini pak."
Konselor         : "Nuary ingin beristirahat sebentar? ( Konselor mengambilkan minum )
Konseli            : " terimakasih pak terimakasih.." (Sementara itu ia mengatur pakaian dan cara duduk).
                                                   (konselor menunggu Nuary selesai minum)
Konselor         : "nah ketika kita ketemu tadi pagi Nuary mau cerita sesuatu sama bapak, mungkin ada yang bisa bapak bantu gitu??"
Konseli          : "Mulai dari mana ya pak?" (terlihat mulai diam dan menunduk tidak berani menatap konselor)
Konselor        : "nampaknya Nury menyimpan perasaan yang kurang mengenakkan?" “Apakah benar seperti itu?”
Konseli            : “Iya pak..” (kemudian diam.....)
Konselor         : “bapak paham dengan perasaanmu, kamu boleh kok bercerita apa saja pada bapak”
Konseli            : “Saya inginnya seperti itu pak, tapi.....” (diam dan menunduk)
Konselor         : “kalau begitu, coba kamu katan perasaan apa yang membuatmu tidak enak itu nur”
Konseli           : “begini pak,,sepertinya saya ingin berhenti saja dari sekolah, saya......”    (Nuary diam dan menangis)
Konselor         : “menangis saja tidak apa-apa” (sampil memberikan Tissue). “lalu bagaimana?”
Konseli            : “orang tua saya sudah meninggal pak, saya tinggal bersama kakak perempuan saya.”
Konselor         : “Bisakah Nuary menjelaskan lebih jauh mengenai kebingungan yang dirasakan Nuary?”
Konseli           : “ Saya sangat bingung pak, kakak saya ikut suami, kakak tidak punya penghasilan apa-apa. Suami kakak saya hanya seorang buruh bangunan, penghasilannyapun pas-pasan sekali. Saya kan butuh uang saku pak, sedangkan kakak tidak selalu punya uang. Ya sudahlah pak, akhirnya saya terpaksa tidak masuk sekolah....”
Konselor           : “Bukankah Nuary mendapat bantuan dari sekolah?”
Konseli           : “uangnya saya gunakan untuk membayar iuran bulanan dan yang lain untuk membeli LKS dan perlengkapan sekolah lain Pak.”
Konselor           : “selanjutnya apa yang akan Nuary lakukan dalam hal ini?”
Konseli           : “saya....saya masih bingung Pak, saya bingung apa yang harus saya lakukan dan apa yang  terbaik untuk saya...mungkin yang terbaik saya harus keluar saja Pak, agar tidak membebani kakak saya terus.”
Konselor       : “Apakah dengan cara Nuary ingin keluar dari sekolah, Nuary sudah merasa masalahnya teratasi?”
Konseli            : “Tidak juga sih Pak..saya masih terus memikirkanya...”
Konselor       : “Nah, Nuary nampaknya sudah memahami masalahnya sendiri yaitu bagaimana untuk bisa menghilangkan rasa membebani dan merepotkan kakak.”
Konseli         : “Ya Pak....tapi perasaan itu selalu membuat saya bingung sepertinya sulit sekali hilang, jadi merasa serba salah...”
Konselor         : “ Nuary sudah kelas XII bukan?”
Konseli           : “benar Pak...”
Konselor      : “Nuary sekolah disini tinggal beberapa bulan lagi, sebentar lagi lulus, sedangkan saat ini Nuary mengalami perasaan tertekan dalam keluarga, bagaimana ini?”
Konseli         : “Ya Pak, Cita-cita saya, saya ingin lulus dengan hasil yang baik, dan saya sudah berjanji untuk tidak membuat kakak saya kecewa. Karena selama ini, kakaklah yang sudah merawat dan membantu saya...bahkan kakak sangat menyayangi saya.”
Konselor       : “Bagus sekali tekad Nuary. Bapak mendukung pendapatmu, Nuary Punya Cara gak, kira – kira untuk menyelesakan masalah ini?”
Konseli           : “Saya masih bingung pak,,,saya takut kakak saya kecewa kepada saya....apalagi jika kakak tahu akhir-akhir ini nilai ulangan saya turun karena perasaan yang membebani saya ini.”
Konselor        : “ketakutan seperti itu harus segera Nuary hilangkan demi kesuksesan Nuary meraih cita-cita yang sudah Nuary inginkan selama ini. Bapak yakin Nuary mampu mengatasinya...”
Konseli      : “saya masih terus berfikir Pak, bagaimana cara menghilangkan perasaan yang selalu membebani saya setiap kali saya melihat kakak saya”
Konselor       : “Apakah selama ini Nuary belum pernah berbicara dengan kakak, apakah benar kakak kamu terbebani dengan keberadaan Nuary dalam keluarganya?”
Konseli          : “Wahhh...haruskah saya bicarakan Pak? Saya takut....”
Konselor       : “Nuary ingin perasaan tidak enak itu hilang bukan?”
Konseli          : “Iya Pak....”
Konselor      : “kalau Nuary tidak mengungkapkannya, jangan-jangan nanti itu hanya perasaan Nuary saja dan kakak tidak pernah merasa terbebani”
Konseli        : “Benar juga sih Pak, harusnya saya diskusikan dengan kakak, agar saya tidak kebingungan sendiri seperti ini”. “nanti kalau sudah sampai rumah, saya akan berbicara dengan kakak saya”
Konselor    : “Ya bagus. Memang seharusnya seperti itu. “ “Kira-kira apa yang akan Nuary rencanan sebagai tindak lanjut dari pembicaraan Nuary dengan kakak nantinya?”
Konseli        : “kalau memang nanti pembicaraan dengan kakak tidak mendapatkan jalan keluar, saya akan membicarakan masalah ini kepada paman yang tinggalnya di kota. Dari dulu Paman ingin menyekolahkan saya, karena beliau tidak memiliki anak. Tetapi kakak tidak mengijinkannya.
Koselor        : “bapak selalu mendukung apa yang akan reni usahakan, doa bapak menyertaimu .”
                                                         “Sebelum kita menutup pembicaraan, bagaimana perasaan Nuary sekarang?”
Konseli       : “saya sudah merasa lega sekali Pak, perasaan yang membebani saya sudah berkurang. Dan sekarang saya sudah paham apa yang harus saya lakukan.”
Konselor       : “Apakah masih ada yang ingin Nuary sampaikan kepada Bapak?”
Konseli         : “sudah Pak, hanya itu masalah yang membebani saya.”
Konselor     : “kalau begitu, kita tutup pembicaraan ini dan Bapak berterimakasih sekali karena kesediaan Nuary menemui Bapak
Konseli         : “Iya Pak, kalau ada apa-apa lagi bolehkah saya menemui Bapak lagi?”
Konselior      : “Boleh sekali dong.”
Konseli         : “terimakasih Pak, saya pamit dulu.”
Konselor       : “iya silakan”
Konseli         : “Assalamu’alaikum”
Konselor       : “Walaikumsalam”

1 komentar:

Unknown mengatakan...

waduh2,
agan tau gak ini anak mana??
gatega q yg baca,,

Voice Clarity di Windows 11

Microsoft memperkenalkan fitur baru bernama Voice Clarity dalam perilisan Windows 11 Insider Build 26040. Awalnya, fitur ini eksklusif untuk...