VERBATIM
KONSELING INDIVIDUAL
Nama konseling : Nuary Ulfa (
nama samaran )
Ttl : Surabaya, 6
April 1993
Alamat : Jln. Ngegel Dadi
123, Surabaya
Sekolah : SMAN 0196 Surabaya
Kelas : XII IA 3
Deskriptif masalah : Nuary
Ulfa ini adalah seorang siswa disalah satu SMA, dia mempunyai masalah keluarga yang berdampak pada
masalah Finansial dan sekolahnya, pada suatu hari Nuary Ulfa ingin bercerita
sesuatu kepada Bapak Ady ( Konseling ) disekolahnya, dengan harapan mendapatkan
solusi.
Akhirnya melailah percakapan yang diinginkan setelah
mereka mengadakan janji untuk bertemu saat waktu kosong dikelasnya tersebut.
Konseli :
“Assalamu’alaikum pak....”
Konselor :
“Walaikumsalam......”
“Eh..Nuary,, mari silakan masuk Nak.....”
“Ayo silakan duduk”
Konseli : “iya Pak, terima kasih”. "Maaf Pak, saya agak terlambat
datang. Tadi saya sehabis mata pelajaran
olahraga langsung ganti baju dan makan siang terlebih dahulu, soalnya tadi pagi
belum sempat sarapan Pak, jadi baru bisa datang"
Konselor : "iya, bapak mengerti. Tidak
apa-apa. Kalau perut tidak diisi terlebih dahulu, nanti malah tidak bisa berkonsentrasi saat
belajar toh?"
Konseli : "Benar Pak, Terima kasih
pengertiannya. Wah, neafas saya masih belum normal ni pak, maklum tadi terburu
buru, jadi lari dari kantin kesini pak."
Konselor : "Nuary ingin beristirahat sebentar? ( Konselor mengambilkan
minum )
Konseli
: " terimakasih pak terimakasih.." (Sementara itu ia mengatur pakaian dan cara duduk).
(konselor menunggu Nuary selesai minum)
Konselor
: "nah ketika kita ketemu tadi pagi Nuary mau cerita sesuatu sama bapak,
mungkin ada yang bisa bapak bantu gitu??"
Konseli : "Mulai dari mana ya pak?" (terlihat
mulai diam dan menunduk tidak berani menatap konselor)
Konselor : "nampaknya Nury menyimpan perasaan yang kurang mengenakkan?"
“Apakah benar seperti itu?”
Konseli
: “Iya pak..” (kemudian diam.....)
Konselor :
“bapak paham dengan perasaanmu, kamu boleh kok bercerita apa saja pada bapak”
Konseli
: “Saya inginnya seperti itu pak, tapi.....” (diam dan menunduk)
Konselor
: “kalau begitu, coba kamu katan perasaan apa yang membuatmu tidak enak itu nur”
Konseli : “begini pak,,sepertinya saya ingin berhenti saja dari sekolah,
saya......” (Nuary diam dan menangis)
Konselor
: “menangis saja tidak apa-apa” (sampil memberikan Tissue). “lalu bagaimana?”
Konseli
: “orang tua saya sudah meninggal pak, saya tinggal bersama kakak perempuan
saya.”
Konselor
: “Bisakah Nuary menjelaskan lebih jauh mengenai kebingungan yang dirasakan Nuary?”
Konseli : “ Saya sangat bingung pak, kakak saya ikut suami, kakak tidak punya
penghasilan apa-apa. Suami kakak saya hanya seorang buruh bangunan,
penghasilannyapun pas-pasan sekali. Saya kan
butuh uang saku pak, sedangkan kakak tidak selalu punya uang. Ya sudahlah pak,
akhirnya saya terpaksa tidak masuk sekolah....”
Konselor : “Bukankah Nuary mendapat bantuan dari
sekolah?”
Konseli : “uangnya saya gunakan untuk membayar iuran bulanan dan yang lain untuk
membeli LKS dan perlengkapan sekolah lain Pak.”
Konselor : “selanjutnya apa yang akan Nuary lakukan
dalam hal ini?”
Konseli : “saya....saya masih bingung Pak, saya bingung apa yang harus saya lakukan dan
apa yang terbaik untuk saya...mungkin yang terbaik saya harus keluar saja
Pak, agar tidak membebani kakak saya terus.”
Konselor :
“Apakah dengan cara Nuary ingin keluar dari sekolah, Nuary sudah merasa
masalahnya teratasi?”
Konseli
: “Tidak juga sih Pak..saya masih terus memikirkanya...”
Konselor : “Nah, Nuary nampaknya sudah memahami masalahnya sendiri yaitu bagaimana untuk
bisa menghilangkan rasa membebani dan merepotkan kakak.”
Konseli : “Ya Pak....tapi perasaan itu selalu membuat saya bingung sepertinya sulit
sekali hilang, jadi merasa serba salah...”
Konselor
: “ Nuary sudah kelas XII bukan?”
Konseli : “benar Pak...”
Konselor : “Nuary sekolah disini tinggal beberapa bulan lagi, sebentar lagi lulus,
sedangkan saat ini Nuary mengalami perasaan tertekan dalam keluarga, bagaimana
ini?”
Konseli : “Ya Pak, Cita-cita saya, saya ingin lulus dengan hasil yang baik, dan saya
sudah berjanji untuk tidak membuat kakak saya kecewa. Karena selama ini,
kakaklah yang sudah merawat dan membantu saya...bahkan kakak sangat menyayangi
saya.”
Konselor : “Bagus sekali tekad Nuary. Bapak mendukung pendapatmu, Nuary Punya Cara gak,
kira – kira untuk menyelesakan masalah ini?”
Konseli : “Saya masih bingung pak,,,saya takut kakak saya kecewa kepada saya....apalagi
jika kakak tahu akhir-akhir ini nilai ulangan saya turun karena perasaan yang
membebani saya ini.”
Konselor : “ketakutan seperti itu harus segera Nuary hilangkan demi kesuksesan Nuary
meraih cita-cita yang sudah Nuary inginkan selama ini. Bapak yakin Nuary mampu
mengatasinya...”
Konseli : “saya masih terus berfikir Pak, bagaimana cara menghilangkan perasaan yang
selalu membebani saya setiap kali saya melihat kakak saya”
Konselor : “Apakah selama ini Nuary belum pernah berbicara dengan kakak, apakah benar
kakak kamu terbebani dengan keberadaan Nuary dalam keluarganya?”
Konseli : “Wahhh...haruskah saya bicarakan Pak? Saya takut....”
Konselor : “Nuary ingin perasaan tidak enak itu hilang bukan?”
Konseli : “Iya Pak....”
Konselor : “kalau Nuary tidak mengungkapkannya, jangan-jangan nanti itu hanya perasaan Nuary
saja dan kakak tidak pernah merasa terbebani”
Konseli : “Benar juga sih Pak,
harusnya saya diskusikan dengan kakak, agar saya tidak kebingungan sendiri
seperti ini”. “nanti kalau sudah sampai rumah, saya akan berbicara dengan kakak
saya”
Konselor : “Ya bagus. Memang seharusnya seperti itu. “ “Kira-kira apa yang akan Nuary
rencanan sebagai tindak lanjut dari pembicaraan Nuary dengan kakak nantinya?”
Konseli : “kalau memang nanti pembicaraan dengan kakak tidak mendapatkan jalan keluar,
saya akan membicarakan masalah ini kepada paman yang tinggalnya di kota. Dari
dulu Paman ingin menyekolahkan saya, karena beliau tidak memiliki anak. Tetapi
kakak tidak mengijinkannya.
Koselor : “bapak selalu mendukung apa yang akan reni usahakan, doa bapak menyertaimu .”
“Sebelum kita menutup pembicaraan,
bagaimana perasaan Nuary sekarang?”
Konseli : “saya sudah merasa lega sekali Pak, perasaan yang membebani saya sudah
berkurang. Dan sekarang saya sudah paham apa yang harus saya lakukan.”
Konselor : “Apakah masih ada yang ingin Nuary sampaikan kepada Bapak?”
Konseli : “sudah Pak, hanya itu masalah yang membebani saya.”
Konselor : “kalau begitu, kita tutup pembicaraan ini dan Bapak berterimakasih sekali
karena kesediaan Nuary menemui Bapak
Konseli : “Iya Pak, kalau ada apa-apa lagi bolehkah saya menemui Bapak lagi?”
Konselior : “Boleh sekali dong.”
Konseli : “terimakasih Pak, saya pamit dulu.”
Konselor : “iya silakan”
Konseli : “Assalamu’alaikum”
Konselor : “Walaikumsalam”
1 komentar:
waduh2,
agan tau gak ini anak mana??
gatega q yg baca,,
Posting Komentar